Virus Sabotase Nuklir Sempat Mampir di Chevron?

Virus Sabotase Nuklir Sempat Mampir di Chevron?

KOMPAS.com – Stuxnet sempat membuat heboh dunia keamanan jaringan pada tahun 2010. Program “jahat” ini mampu mengganggu fasilitas nuklir Iran, sehingga sekitar 1.000 dari 5.000 centrifuges yang digunakan Iran untuk memperkaya uranium tidak bisa digunakan.

Lebih lanjut, diduga ada dua negara besar di balik Stuxnet ini. Kedua negara tersebut adalah Amerika Serikat dan Israel.

Stuxnet diduga kuat dibuat untuk menyabotase fasilitas nuklir Iran. Namun, tidak ada yang menduga kalau ternyata malware ini bisa keluar dari fasilitas tersebut dan menyebabkan kekacauan di berbagai jaringan internet di seluruh dunia.

Bahkan, dilaporkan, Stuxnet sempat “mampir” ke perusahaan sumber daya alam asal AS, Chevron. Jika benar malware itu melibatkan intelijen AS, ini bagaikan “senjata makan tuan”.

Menurut Mark Koelmel, General Manager of The Earth Science Department Chevron, perusahaan tersebut menemukan adanya Stuxnet di sistem komputer mereka pada bulan Juli tahun 2010.

“Saya rasa pemerintah AS tidak menyadari seberapa jauh Stuxnet telah menyebar,” kata Koelmel.

Namun, Chevron mengaku kalau serangan tersebut tidak berdampak terlalu besar bagi mereka.

“Kami sudah membuat berbagai upaya untuk melindungi sistem data kami dari ancaman tipe tersebut,” kata Morgan Crinklaw, perwakilan dari Chevron, seperti dikutip dari Wall Street Journal.

Chevron menjari perusahaan asal AS pertama yang mengaku terserang Stuxnet. Diduga banyak perusahaan AS lain yang terkena ancaman ini. Namun, mereka tidak mau mengakui hal tersebut karena alasan keamanan atau menghindari rasa malu.

Sumber : WSJ
Advertisements